Sosialisasi Rencana Operasional Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FoLU) Net Sink 2030 Regional Sulawesi

Melalui agenda FoLU Net Carbon Sink 2030, Indonesia menegaskan komitmennya. Hal ini merupakan sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan, dengan kondisi dimana tingkat serapan sama atau lebih tinggi dari tingkat emisi.

 

Skenario ini dibangun berdasarkan hasil kinerja bersama dalam melakukan koreksi kebijakan (corrective actions) sektor kehutanan.

 

Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dirangkum dalam Rencana Operasional yang rinci, dan menjadi pijakan implementasi langkah penurunan emisi GRK, yang selanjutnya dituangkan menjadi pedoman kerja atau manual yang sistematis dalam penanganan setiap kegiatan ‘forest and land use’ seperti kebakaran hutan dan lahan, deforestasi dan degradasi hutan, konservasi habitat, keanekaragaman hayati, pengelolaan gambut, dan mangrove.

 

‘Indonesia’s FOLU Net Sink 2030’ memberikan target pembangunan yang sangat fokus. Mendorong kinerja sektor kehutanan menuju target pembangunan yang sama, yaitu tercapainya tingkat emisi GRK sebesar minus 140 juta ton CO2e pada tahun 2030.

 

Dengan menggunakan modalitas kerja dengan tiga pijakan dasar utama, yaitu: ‘sustainable forest management, environmental governance, dan carbon governance’.

 

Sosialisasi Rencana Operasional Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FoLU) Net Sink 2030 ini dilaksanakan bertujuan untuk menyampaikan kebijakan, strategi, dan rencana untuk implementasi, rencana aksi mitigasi yang mengacu pada target penurunan emisi gas rumah kaca sampai dengan tahun 2030 kepada seluruh lapisan masyarakat secara langsung maupun melalui stakeholder.

 

Dalam kaitan hal tersebut, KLHK menginisiasi Sosialisasi Rencana Operasional Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) NET SINK 2030 Regional Sulawesi yang dilaksanakan di Universitas Hasanuddin, Makassar pada Senin (4/07/ 2022).

Perhelatan akbar ini dihadiri langsung Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa didampingi oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Prov. Sulawesi Selatan mewakili Gubernur Sulawesi Selatan Dr. dr. Ichsan Mustari, Prof. Winarni Monoarfa Staf Ahli MenLHK Bidang Energi, Dirjen Pengelolaan Hutan Lestari yang juga ketua Ketua Harian II tim Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 Dr. Ir. Agus Justianto.

Hadir pula Dirjen  Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK Dr. Bambang Supriyanto, Dr. Darhamsyah Kepala P3E SUMA-KLHK, Dekan Fakultas Kehutanan Unhas Dr. Andi Mujetahid, Erik Teguh Primantoro, M.E.S. Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor, Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan KLHK, Ketua Bidang II Peningkatan Cadangan Karbon Helmi Basalamah, M.M., Ketua Bidang III Konservasi Dewi Sulastriningsih, M.I.L., Ketua Bidang IV Pengelolaan Ekosistem Gambut M.R. Karliansyah, M.S., Ketua Bidang V Instrumen dan Informasi Dr. Mahfudz serta Direktur Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring Pelaporan dan Verifikasi KLHK Dr. Syaiful Anwar serta para kepala UPT Satker LHK SulSel bersama tamu undangan lainnya.

Diawali laporan panitia, Erik Teguh Primantoro dalam sambutan laporan panitia mengungkapkan bahwa Sosialiasi IFNET 2030 ini dilakukan untuk rencana aksi target penurunan emisi GRK melalui pendekatan sektor kehutanan dan instrumennya serta kegiatan ini merupakan kegiatan putaran kelima,” tutur Erik.

 

Selanjutnya dalam sambutan pembukaannya, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa mengungkapkan rasa terimakasih dan kepercayaannya untuk bermitra bersama-sama kami.

 

Lebih lanjut, Rektor Unhas kembali menuturkan bahwa kita bersama memastikan komitmen Indonesia serta akan menjadi tuan rumah dari Presedensi G20.

 

Dimana salah satu yang akan menjadi fokus utama adalah tentang perubahan iklim, bumi bukan hanya sebagai objek tetapi sekaligus menjadi tempat kita hidup. Terimakasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah hadir menjaga keseimbangan bumi sebagai planet kita satu satunya.

 

Unhas juga ‘menuju carbon natural campus‘ hingga 2045. Mulai saat ini kita harus berbuat bagaimana kerusakan iklim itu membuat perubahan secara cepat.

 

Dan yang paling rentan terhadap ‘climate change’ perubahan iklim ini yakni lingkungan hidup pada ekosistem lautnya, ditahun 1998 sewaktu saya di Australia terjadi ‘coral reef bleaching’. “Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Prof. Jamaluddin Jompa.

 

Bagaimana dampak perubahan iklim itu menyasar kehidupan kita,Tidak ada keraguan bumi telah dirusak manusia diluar ambang batas kemampuan bumi untuk ‘recovery’ kembali.

 

Semoga kita mensukseskan program program pemerintah seperti ‘FoLU Net Sink 2030’ ini, tentunya untuk kita semua.

 

“Terimakasih KLHK yang telah merawat Bumi,” pungkas Rektor Unhas dihadapan peserta yang hadir diruang senat.

Ditempat yang sama, Gubernur Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Dr. dr. Ichsan Mustari mengapresiasi kepada KLHK yang telah memperkenalkan kepada dunia melalui rencana operasional FoLU Net Sink 2030.

 

Pemprov SulSel sangat bangga kegiatan ini diadakan di Sulawesi Selatan. Pemprov Sulsel juga telah menjadi Provinsi Percontohan pertama yang berupaya menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca, melalui langkah adaptasi dan mitigasi serta pada 2019 lalu, telah melakukan nota kesepahaman MoU dengan Bappenas melalui Pembangunan Rendah Karbon.

 

Hal ini merupakan komitmen Pemprov Sulsel dalam menjalankan agenda pembangunan yang berkelanjutan seperti ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, ekonomi, kesehatan hingga perubahan iklim.

 

Menurut Ichsan Mustari yang hadir membacakan sambutan Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengatakan bahwa Kami (Pemprov Sulsel) berkomitmen dalam menjaga lingkungan tanpa mengabaikan pembangunan ekonomi, kami berkaca dari bencana alam, bencana banjir yang pernah merendam 11 kabupaten/kota dengan biaya yang dikeluarkan untuk ‘recovery’ pemulihan justru lebih besar dari pada investasi ekonomi.

 

Kembali ditambahkannya bahwa, saat ini Pemprov SulSel telah mempunyai Peraturan Daerah Nomor 03 tahun 2022 tentang  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah mengabungkan dengan rencana zonasi dan wilayah pulau pulau kecil serta menggabungkan pengelolaan kehutanan di SulSel serta akan ditindak lanjuti oleh Walikota dan Bupati dalam mengatur secara tehnis terkait Perda ini.

 

Menindaklanjuti nota kesepahaman melalui pembangunan rendah karbon, Pemprov Sulsel menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 11 tahun 2020 tentang perubahan Pergub nomor 59 tahun 2012 mengenai Rencana Aksi Gas Rumah Kaca (RA GRK) dan Sosialisasi Pergub ini telah gencar dilakukan dan mendapatkan dukungan dari 24 Kab/Kota.

 

Dalam upaya penurunan emisi GRK ini, pihak Pemprov SulSel menetapkan target sebesar 3,56 Juta ton CO2e (karbondioksida equivalen) melalui berbagai kegiatan di sektor strategis seperti kehutanan, pertanian energi, pesisir, transportasi, pengelolaan limbah, sektor kelautan dan kehutanan.

 

Luasnya hutan dan lahan gambut yang dimiliki di Prov SulSel dapat menjadikan sector kehutanan menyumbang kontribusi pengurangan emisi terbesar.

 

Diharapkan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Akademisi dapat bekerjasama secara kolektif dalam aksi percepatan dan implementasi langkah-langkah mitigasi domestik serta peran penting dalam melindungi,memulihkan pelestarian alam.

 

“Memberikan kontribusi dengan melibatkan masyarakat sebab masyarakat adalah subyek utama, semoga niat baik kita ini untuk membangun Hutan dan Lingkungan Indonesia diberikan berkah dan kemudahan oleh Allah SWT.,” tutur Asisten Ekonomi dan Pembangunan Prov. Sulsel ini.

 

Dilanjutkan dengan pengantar materi oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Selaku Ketua Harian II Tim Indonesia’s FoLU Net Sink 2030/ DR. Ir. Agus Justianto, M.Sc.

 

Latar belakang dari kegiatan FoLU Net Sink 2030 ini terkait dengan adanya isu perubahan iklim yang menjadi masalah global yang mengancam kehidupan kita.

 

Antara lain; kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, anomali iklim, peningkatan tinggi permukaan air laut serta hilangnya keanekaragaman hayati.

 

Diungkapkannya bahwa beberapa Gas Rumah Kaca (GRK) antara lain; karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), sulfur heksaflorida (SF6), perfluoro karbon (PFC) dan lain-lain.

 

“Indonesia berkomitmen sehingga diperlukan keterlibatan semua pihak secara kolektif di semua sektor,” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari-KLHK.

 

Dilanjutkan lagi paparan Ketua Bidang II (Dua) Peningkatan Cadangan Karbon Ir. Helmi Basalamah, M.M. membawakan materi IFNET 2030.

Menurut Helmi, kegiatan utamanya adalah terbagi 3 (tiga) pokja yakni; rehabilitasi hutan dan lahan, mangrove serta restorasi, replikasi ekosistem, ruang terbuka hijau dan ekoriparian.

 

Turut hadir pula menyampaikan materi dari Ketua Bidang Tiga Konservasi oleh Dewi Sulastriningsih, S.Hut., M.I.L. yang berjudul Rencana Kerja FoLU Net Sink 2030 bidang Konservasi.

 

“Diantaranya identifikasi, sosialisasi rencana kerja, monitoring hingga pelaksanaan,” jelas Dewi.

 

Hadir pula Ketua Bidang IV (Empat) Pengelolaan Ekosistem Gambut oleh Drs. M. R. Karliansyah, M.S.

Dalam paparannya ketua bidang IV ini menjelaskan bahwa karhutla gambut itu pemberi emisi terbesar selama ini, maka tugas kami menjaga gambut ini tetap basah, jika basah kemungkinan untuk terbakar itu tidak mudah.

 

Di Indonesia dengan luasan gambut sekitar 28 juta ha, kita mencatat ada 1,2 juta ha kondisinya yang parah dan rusak parah dan berat, sehingga cara kita mengantisipasinya adalah mewajibkan perusahaan HTI, HPH dan kebun sawit yang beroperasi di lahan tersebut agar melakukan pembasahan.

 

“Wilayah desa,Masyarakat kita dampingi dengan desa peduli gambut berjumlah 222 desa mandiri untuk membasahi lahan gambutnya,” tutur Karliansyah.

 

Kemudian dilanjutkan paparan dari Ketua Bidang V (Lima) Instrumen dan Informasi, oleh Dr. Ir. Mahfudz, M.P.

 

Menurutnya Strategi Media terkait IFNET 2030 ini antara lain mengoptimalisasikan media konvensional.

 

“Penggunaan aset mandiri sebagai pusat informasi, forum tatap muka hingga pemanfaatan media elektronik dan digital,” jelas Mahfudz.

 

Dilanjutkan juga dengan paparan terkait Kontribusi Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan dalam mendukung Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 oleh Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Bapak Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc.

 

Acara Sosialisasi Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 dilakukan juga sesi diskusi dan tanggapan oleh para akademisi antara lain;

Dr. Ir. A. Mujetahid M, S.Hut., M.P., IPU. (Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin);

Dr. Ir. Golar, S.Hut., M.Si (Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako);

Prof. Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M.Si. (Dekan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo);

Ir. Hard Napoleon Pollo, M.Si. (Koordinator Prodi Kehutanan Faperta Universitas Sam Ratulangi/Unsrat);

Prof. Dr. Ir. Kaemuddin, M.S (Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin).

 

Selanjutnya sesi ‘Wrap Up’ rumusan hasil penyelenggaraan kegiatan IFNET 2030 Region Sulawesi Tahun 2022 oleh Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Energi, Prof. Dr. Ir. Winarni Monoarfa, M.S.

Dalam penjelasannya bahwa Provinsi Sulsel memasang target sekitar 3,6 juta ton pengurangan karbon dioksida, serta melakukan pembangunan rendah karbon di tahun 2019 bersama Bappenas.

 

Lebih lanjut ditambahkannya bahwa dampak perubahan iklim berdampak pada ekosistem laut dengan adanya ‘coral reefs bleaching’.

 

Universitas Hasanudin juga telah mengembangkan ‘center of climatechange’ dan ‘carbon natural campus’ hingga 2045.

 

Prof. Winarni kemudian menjelaskan lagi bahwa diperlukan percontohan dan ‘role model’ ‘serta beberapa hal yang perlu ditindak lanjuti antara lain pengembangan hutan tanaman energi, penguatan peran KPH, Pemerintah Pusat, Pemda dan Akademisi menempuh langkah mitgasi.

 

“Prinsip think globally dan act locally menjadi prinsip penting dalam penerapan dan pencapaian target IFNET 2030,” tutur Prof. Winarni, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Energi.

 

Dikegiatan ini juga telah dilakukan penanaman pohon secara simbolis di Taman Keanekaragaman Hayati, depan gedung Rektorat Unhas.

Kegiatan yang digelar secara ‘hybrid’ ini juga dapat diikuti siaran ulangnya pada tautan youtube PKTL KLHK dengan link https://youtu.be/mlixAiWCBoU.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *