Pusdal LH Sulawesi Maluku Dukung Edukasi Konservasi KEHATI untuk Generasi Muda di Makassar

Makassar, Sabtu (08/05/2026) — Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati bekerja sama dengan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) GmbH menggelar kegiatan Edukasi Konservasi Keanekaragaman Hayati Sulawesi dan Maluku bertema “Youth for Urban Biodiversity: Satu Langkah, Sejuta Harapan untuk Alam” di Kampus Universitas Hasanuddin Tamalanrea, Makassar.

 

Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WITA ini menjadi bagian dari rangkaian Biodiversity Week 2026 dalam menyambut International Day for Biodiversity yang diperingati setiap 22 Mei.

 

Hadir langsung mewakili Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku, Kepala Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Dr. Azri Rasul, S.K.M., M.Si., M.H., didampingi Kabidwil II Pusdal LH Suma, Arnianah Alwi, S.Si., M.Si. beserta staf Pusdal LH Suma dan ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk peserta difabel dan siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 26 Makassar.

Pusdal LH Suma Dorong Kesadaran Lingkungan Generasi Muda

Dalam sambutan sekaligus membuka kegiatan, Kepala Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Dr. Azri Rasul menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan GIZ atas kolaborasi pelaksanaan kegiatan edukasi lingkungan bagi generasi muda di Makassar.

 

Menurutnya, kegiatan edukasi konservasi perlu terus diperkuat untuk meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap pentingnya menjaga keanekaragaman hayati beserta ancaman yang dihadapinya.

“Keanekaragaman hayati tidak hanya perlu dikenali, tetapi juga harus dipahami ancaman yang dapat merusak habitat dan ekosistemnya. Salah satu ancaman nyata saat ini adalah persoalan sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perubahan pola hidup masyarakat yang semakin praktis turut meningkatkan timbulan sampah, khususnya sampah plastik dan kemasan sekali pakai yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

“Kalau sampah tidak diperlakukan secara ramah lingkungan, maka akan menjadi ancaman bagi ekosistem dan keanekaragaman hayati. Karena itu generasi muda harus menjadi pelopor perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah,” tegasnya.

Dr. Azri juga mengajak para peserta untuk tidak hanya memahami materi konservasi, tetapi turut mengimplementasikan perilaku ramah lingkungan di sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar.

“Harapan kita generasi muda bisa menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menjaga lingkungan dari ancaman pencemaran. Kalau bukan generasi muda sekarang, siapa lagi,” tambahnya.

Edukasi Konservasi Lewat Experiential Learning

Kegiatan edukasi dikemas secara interaktif melalui sesi Experiential Learning yang dipandu Direktorat KKH, Bambang Nooryanto, SP., bersama Ikeu dari GIZ.

Dalam sesi tersebut, peserta mengikuti berbagai aktivitas edukatif seperti Biodiversity Exploration Zone berupa eksplorasi langsung keanekaragaman hayati melalui konsep mini field research, Eco Challenge Zone melalui permainan edukatif lingkungan, serta Creative Campaign Zone yang mengajak peserta membuat poster dan konten media sosial bertema konservasi.

Youth Dialogue Bahas Peran Pemuda Menjaga KEHATI

Kegiatan juga menghadirkan sesi Youth Dialogue bertema pemahaman keanekaragaman hayati, peran pemuda, dan langkah pelestarian lingkungan ke depan. Diskusi dipandu moderator dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Andi Siady Hamzah, S.Hut., M.Si.

Dalam pengantarnya, ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara mega biodiversity menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang mengancam keberadaan keanekaragaman hayati sehingga membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda.

“Kita membutuhkan kesadaran bersama agar generasi muda tidak hanya memahami pentingnya keanekaragaman hayati, tetapi juga mengambil peran nyata dalam menjaganya,” ujarnya.

Narasumber dari Kelompok Pengelola Wisata Bantimurung, Ismail, menjelaskan bahwa konservasi harus dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia dan menjadi prinsip dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam.

 

Ia menyoroti berbagai ancaman lingkungan seperti deforestasi dan sampah yang mulai memengaruhi ekosistem, termasuk kawasan karst dan sungai di Sulawesi Selatan.

Sementara itu, narasumber dari Yayasan Bumi Toala Indonesia, Fardi A.R., menekankan bahwa Sulawesi memiliki nilai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sebagai bagian dari kawasan Wallacea dengan berbagai spesies endemik yang harus dijaga bersama.

 

Menurutnya, keanekaragaman hayati merupakan penyangga kehidupan manusia sehingga generasi muda memiliki tanggung jawab menjaga warisan alam untuk masa depan.

Bangun Kesadaran Lingkungan Sejak Dini

Melalui kegiatan ini, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku menegaskan komitmennya mendukung edukasi dan peningkatan kesadaran lingkungan bagi generasi muda sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Sulawesi dan Maluku.

Kegiatan diharapkan mampu membangun kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sekaligus mendorong lahirnya aksi nyata dalam menjaga ekosistem dan mengurangi ancaman pencemaran di lingkungan sekitar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *