GOWA – Dalam upaya nyata menjaga kelestarian kawasan hulu dan memperkuat budaya pendakian yang bertanggung jawab, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH Suma) KLH/BPLH menginisiasi kegiatan “Korve Aksi Bersih serta Pembangunan Infrastruktur Hijau” di Camp Pos 8 Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026 ini bertepatan dengan momentum menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Aksi ini dipimpin langsung oleh Kepala Pusdal LH Sulawesi dan Maluku – KLH/BPLH, Dr. Azri Rasul, S.K.M., M.Si., M.H., didampingi Kabidwil II Pusdal LH Suma, Arnianah Alwi, S.Si., M.Si., dan Kasubbag TU Pusdal LH Suma, Rina Triany Muchsin, S.E., M.A.P., bersama jajaran pejabat fungsional dan pelaksana.

Turut hadir mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sulsel – Kemenhut, Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D., Kabid KSDA Wilayah II, Ir. Mustari Tepu, S.Hut., M.Sc., IPM., bersama staf BBKSDA Sulsel. Kegiatan ini mencerminkan semangat kolaborasi pentahelix dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga komunitas pecinta alam.

Sejumlah pihak yang turut terjun langsung di antaranya:
- Sektor Swasta & Sponsor: Direktur Utama PT ESA Maha Karya Tunggal, Eka Lestari Sinaga, S.Kom, M.H, beserta tim dari Jakarta dan Bali, serta perwakilan BUMN seperti Pertamina, Bantuan dari PLN, Pelindo dan PT Vale Indonesia yang di serahkan 2 tahap untuk pos 3,5 dan 8.
- Keamanan & Evakuasi: Tim SAR yang dipimpin Muhammad Danial serta KPA Hijau Bawakaraeng di bawah arahan Hamzah Nurdin dengan kekuatan 20 personel.
- Organisasi & Komunitas: HIPMI Kab. Bone, pegiat lingkungan dari Ternate (Chiko), serta berbagai komunitas pecinta alam seperti Klik Hijau, Setengah Tiang, dan Napas Tua.

Kondisi Pos 8 yang sebelumnya memprihatinkan karena minimnya fasilitas sanitasi menjadi fokus utama. Pusdal LH suma menargetkan pembangunan fasilitas air bersih, toilet, wadah sampah, serta langgar (sarana ibadah) selesai sebelum 5 Juni 2026.
“Menjaga kawasan hulu berarti menjaga keberlangsungan hidup jutaan masyarakat di hilir, termasuk Gowa dan Makassar, yang menggantungkan kebutuhan air bersih dari ekosistem ini,” ujar Dr. Azri Rasul. Tanpa pengelolaan limbah manusia yang baik, risiko kontaminasi bakteri E. coli pada sumber air penduduk sangatlah tinggi.

Selain pembangunan fisik, sebanyak 105 peserta berhasil mengumpulkan total 215 kg sampah anorganik (setara 25 karung) dari area camp dan jalur pendakian. Sampah yang terdiri dari botol plastik dan bungkus makanan tersebut kemudian dibawa turun untuk diserahkan kepada pihak pengelola wisata di Lembanna dan diteruskan ke Bank Sampah Unit (BSU) guna memberikan nilai ekonomis tambahan.

Sebagai langkah preventif mengurangi sampah di masa depan, panitia juga membagikan 250 tumbler edukatif kepada para pendaki guna mengampanyekan pengurangan plastik sekali pakai.

Melalui gerakan ini, diharapkan tercipta budaya responsible mountaineering atau pendakian yang bertanggung jawab. Keberhasilan aksi di Gunung Bawakaraeng ini diharapkan menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di berbagai kawasan konservasi lainnya di Indonesia demi menjaga bumi tetap Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) bagi generasi mendatang.

