BKKBN Sulsel dan Pusdal LH Suma Perkuat Sinergi Wujudkan Budaya Eco Office Melalui Program ASRI

MAKASSAR – Di tengah ancaman perubahan iklim global dan krisis penumpukan sampah yang kian mengkhawatirkan, institusi pemerintah dituntut untuk tidak sekadar menjadi pembuat regulasi, tetapi juga menjadi aktor utama dalam aksi pelestarian lingkungan. Menjawab tantangan tersebut, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) secara resmi menginisiasi transformasi budaya kerja berbasis lingkungan.

 

Pada Kamis (16/04/2026), BKKBN Sulsel menggandeng Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH Suma) untuk menggelar sosialisasi masif mengenai pengelolaan sampah. Bertajuk “Meningkatkan Peran Pegawai dan PKB/PLKB Kemendukbangga dalam Mendukung Program ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah)”, kegiatan ini menjadi tonggak awal penerapan konsep Eco Office di lingkungan instansi tersebut.

 

Komitmen Lintas Sektoral dan Landasan Hukum Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini berpusat di Ruang Pola Perwakilan BKKBN Sulsel, Jalan A.P. Pettarani No. 122, Makassar. Selain dihadiri secara tatap muka oleh jajaran pimpinan dan staf kantor perwakilan, acara ini juga diikuti secara daring oleh ribuan Penyuluh KB (PKB) dan Petugas Lapangan KB (PLKB) yang tersebar di 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Ketua Tim Kerja Umum dan Pengelolaan BMN BKKBN Sulsel, Ariani Hamsir, S.Kom., dalam laporan penyelenggaraannya menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar seremonial. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut konkret dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang telah disepakati antara BKKBN Sulsel dan Pusdal LH Suma.

“Landasan operasional kami sangat kuat, merujuk pada Permen LHK Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Bank Sampah serta DIPA Satker Perwakilan BKKBN Sulsel Tahun Anggaran 2026. Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah dan setiap jam kerja yang dialokasikan berdampak pada pemahaman pegawai terkait mitigasi kerusakan lingkungan,” papar Ariani di hadapan peserta.

Menjadikan ASN sebagai Pelopor Perubahan

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, H. Shodiqin, S.H., M.M., membuka acara dengan memberikan arahan strategis. Menurutnya, BKKBN memiliki irisan kepentingan yang besar dengan isu lingkungan. Kualitas hidup keluarga, yang menjadi inti program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana), sangat bergantung pada kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan tempat tinggalnya.

“Kita tidak boleh hanya fokus pada angka penurunan stunting atau kesuksesan kontrasepsi, sementara lingkungan kantor dan rumah kita dipenuhi sampah plastik. Aparatur Sipil Negara (ASN) harus memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan,” tegas Shodiqin.

Ia menambahkan bahwa target besar dari kegiatan ini adalah lahirnya “Virus Positif” yang dibawa oleh para penyuluh KB ke desa-desa. “Penyuluh kita adalah ujung tombak. Jika mereka paham cara mengelola sampah, mereka bisa mengedukasi jutaan keluarga di Sulawesi Selatan untuk melakukan hal yang sama,” imbuhnya.

 

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusdal LH Suma, Dr. Azri Rasul, S.K.M., M.Si., M.H., yang hadir bersama Kepala Bidang Wilayah II, Arnianah Alwi, S.Si., M.Si., memberikan apresiasi tinggi. Kapusdal LH Suma menekankan bahwa Sulawesi Selatan memerlukan sinergi antarlembaga untuk menangani beban sampah domestik yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Edukasi Teknis: Dari Prinsip 3R hingga Bank Sampah, Inti dari sosialisasi ini adalah pembekalan teknis mengenai tata kelola sampah yang berkelanjutan. Narasumber ahli dari Pusdal LH Suma membedah secara mendalam filosofi 3R yang sering kali hanya menjadi slogan tanpa praktik:

  • Reduce (Mengurangi): Pegawai didorong untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke wadah yang dapat digunakan ulang (tumbler dan lunch box).
  • Reuse (Menggunakan Kembali): Membudayakan pemanfaatan kembali kertas bekas untuk draf dokumen atau barang-barang kantor lainnya yang masih layak guna.
  • Recycle (Mendaur Ulang): Memisahkan sampah yang memiliki nilai ekonomi untuk diproses kembali menjadi produk baru.

 

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pembentukan Bank Sampah Unit di kantor BKKBN Sulsel. Sistem ini mewajibkan setiap unit kerja untuk memilah sampah sejak dari meja kerja masing-masing. Sampah yang telah terpilah nantinya akan ditimbang dan disetorkan ke bank sampah, menciptakan siklus ekonomi sirkular di lingkungan kantor.

 

Rencana Aksi dan Integrasi Program

Antusiasme peserta terlihat jelas dalam sesi diskusi interaktif. Banyak penyuluh dari daerah menanyakan cara mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kelompok binaan seperti Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Lansia (BKL). Hasilnya, diskusi ini melahirkan beberapa rencana aksi strategis, antara lain:

  • Penyusunan pakta integritas lingkungan bagi seluruh pegawai.
  • Standardisasi pelabelan wadah sampah (Organik, Anorganik, dan B3) di seluruh balai diklat dan kantor penyuluhan.
  • Penyisipan materi “Keluarga Sadar Lingkungan” dalam modul penyuluhan kepada masyarakat di tingkat desa/kelurahan.

Menuju Revolusi Mental Lingkungan

Menutup kegiatan, Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Sulsel, Irmawahyuni Bachtiar, S.Sos., memberikan pesan penutup yang menyentuh sisi kemanusiaan. Beliau menyatakan bahwa apa yang dilakukan hari ini adalah bentuk warisan bagi generasi mendatang.

“Ini adalah bagian dari revolusi mental. Membuang sampah sesuai jenisnya mungkin terlihat sepele, tetapi itu adalah indikator kedisiplinan dan kepedulian sosial kita. Saya berharap keluarga besar BKKBN Sulsel dapat menjadi duta lingkungan yang sesungguhnya di tengah masyarakat,” pungkas Irmawahyuni.

 

Dengan suksesnya sosialisasi ini, BKKBN Sulawesi Selatan kini resmi memulai perjalanannya menuju Eco Office. Langkah ini diharapkan dapat menginspirasi instansi pemerintah lainnya di Sulawesi Selatan untuk selaras dalam menjaga kelestarian bumi, memastikan bahwa pembangunan kependudukan berjalan beriringan dengan kelestarian alam demi masa depan yang lebih hijau, resik, dan sejahtera.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *