Makassar, Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim (MSDPPI) KLHK dan Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan Cengkerama Iklim di Swiss-Belhotel Makassar pada Selasa (9/12). Acara ini menandai dimulainya pembekalan intensif bagi mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim, dengan fokus pada “Pengabdian Masyarakat dalam Aksi Pengendalian Perubahan Iklim,” yang bertujuan menerjemahkan kebijakan iklim nasional ke aksi komunitas di lapangan dengan dihadiri oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku-KLH serta perwakilan dari The Hanns Seidel Foundation (HFS) dan Pusat Penelitian Perubahan Iklim Unhas.

Menguatkan Fondasi Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Lingkungan
Dalam sambutannya mengenai posisi Indonesia dalam isu iklim global, Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D selaku Direktur MSDPPI- KLH mengungkapkan bahwa Kerangka Global dan Nasional Perubahan Iklim, menyoroti peran strategis mahasiswa dalam mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) dan Program Kampung Iklim (ProKlim). “Bagaimana perubahan iklim memperparah kondisi bumi kita,” pesannya.
Senada hal tersebut, Mewakili Kepala Pusdal LH SUMA-KLH, Kasubbag TU Rina Triany, S.E., M.A.P. menuturkan bahwa ancaman perubahan iklim di wilayah Sulawesi dan Maluku, terutama di kawasan pesisir, memerlukan aksi cepat dan masif.
”Mahasiswa KKN Unhas diharapkan menjadi perpanjangan tangan Pusdal LH SUMA-KLH, di lapangan. Adik-adik mahasiswa adalah garda depan yang akan membantu mengimplementasikan kebijakan hingga tingkat komunitas, memastikan ketahanan lingkungan dan sosial di wilayah kepulauan ini,” pesannya.

Sementara itu, Prof. Nita Rukminasari, S.Pi., M.P., Ph.D. juga menekankan pentingnya Strategi Adaptasi Berbasis Ekosistem Pesisir, dengan fokus pada restorasi mangrove, pemanfaatan ‘Ecosystem Services, dan Climate-Smart Aquaculture’.
“Pembekalan ini sangat penting karena data regional menunjukkan urgensi. Sesi Kajian Dampak Regional pagi tadi menunjukkan proyeksi kenaikan muka air laut dan ancaman cuaca ekstrem yang nyata di Kota Makassar, memaksa kita untuk bertindak segera,” jelas Dr. Ir. Syarifuddin Mabe P., S.T., M.T., dari UPT KKN Unhas, yang turut menyampaikan Metodologi KKN Partisipatif kepada mahasiswa.
Sesi pertama ini telah membekali peserta yang terdiri dari DLHK Prov dan DLH Kota Makassar, Mahasiswa Unhas serta NGO dengan materi fundamental, termasuk Kerangka NDC dan Strategi Adaptasi Berbasis Ekosistem Pesisir (Restorasi Mangrove, Climate-Smart Aquaculture), serta pemaparan mengenai ancaman nyata di Kota Makassar.

Menuju Implementasi Aksi di Lapangan
Kegiatan ini juga membedah implementasi aksi iklim di tingkat tapak. Sesi panel menampilkan Ketua Yayasan Hutan Biru (YHB) yang membahas contoh teknis Restorasi Ekosistem Pesisir, serta Koordinator Komunitas Anak Sungai Rammang Rammang, yang akan berbagi pengalaman sukses dalam Adaptasi Perubahan Iklim melalui Aksi ProKlim.
Diharapkan, diskusi implementatif ini akan memberikan panduan praktis dan inspirasi bagi mahasiswa KKN untuk menyusun Rencana Aksi Komunitas (RAK) yang efektif dan berkelanjutan. Pertemuan ini ditutup dengan penjelasan detail Modul KKN.

