Maros, 12 Juli 2026 – Bentang Alam Karst Rammang-Rammang merupakan warisan alam yang harus dijaga bersama sebagai penyangga kehidupan, penyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus ruang hidup masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Dewan Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Alia Febyani Jumhur Hidayat, saat menghadiri kegiatan Jambore Ruang IV bertema “Kembali ke Rumah” di kawasan Karst Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Minggu (12/7).
Dalam kegiatan tersebut, Alia didampingi Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH Suma) Azri Rasul, Ketua DWP Pusdal LH Sulawesi dan Maluku Hj. Sukreni Azri Rasul, Kepala Balai Gakkum Lingkungan Hidup Wilayah Sulawesi Muhammad Ihsan beserta istri, Kepala Bidang Wilayah II Arnianah Alwi, serta jajaran Pusdal LH Sulawesi dan Maluku dan Balai Gakkum Lingkungan Hidup Wilayah Sulawesi. Rombongan turut disambut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maros Andi Irfan Paharuddin, pegiat lingkungan Iwan Dento, serta komunitas dan masyarakat yang selama ini aktif menjaga kelestarian kawasan karst.

Dalam momentum hangat tersebut, Dewan Penasehat DWP KLH/BPLH melakukan penanaman pohon bersama serta berdialog langsung dengan para pegiat lingkungan dari berbagai daerah. Mengusung tema “Kembali ke Rumah”, Jambore Ruang IV menjadi ruang silaturahmi, berbagi pengalaman, dan memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian bentang alam karst Rammang-Rammang sebagai salah satu kawasan dengan nilai ekologis dan budaya yang tinggi di Indonesia.

Dalam dialog bersama para pegiat lingkungan, Alia Febyani Jumhur Hidayat menitipkan pesan agar semangat menjaga Rammang-Rammang tidak pernah surut dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Rammang-Rammang adalah rumah kita bersama. Menjaga kawasan ini berarti menjaga sumber kehidupan, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus menjaga warisan alam yang tidak ternilai. Saya berharap semangat para pegiat lingkungan hari ini terus menginspirasi masyarakat untuk mencintai dan merawat alam, sehingga Rammang-Rammang tetap lestari bagi anak cucu kita,” pesan Alia.

Menurutnya, pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, komunitas, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.

Kepala Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Azri Rasul, mengatakan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kawasan karst.
“Bentang alam karst memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sebagai penyimpan air, habitat berbagai spesies, dan penyangga kehidupan masyarakat. Karena itu, menjaga Rammang-Rammang berarti menjaga keberlanjutan lingkungan. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas seperti yang terbangun dalam Jambore Ruang perlu terus diperkuat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh pegiat lingkungan untuk terus mendokumentasikan berbagai aksi konservasi yang telah dilakukan.
“Setiap pohon yang ditanam, setiap kawasan yang dipulihkan, hingga setiap kegiatan edukasi lingkungan perlu didokumentasikan dengan baik. Data tersebut akan menjadi bukti nyata bahwa gerakan masyarakat mampu memberikan kontribusi terhadap perlindungan lingkungan dan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain,” tambah Azri.

Sementara itu, Ketua DWP Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Hj. Sukreni Azri Rasul, menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan kecintaan terhadap alam sejak usia dini.
“Menjaga lingkungan dimulai dari keluarga. Ketika anak-anak dibiasakan mencintai alam, menanam pohon, dan menghargai setiap makhluk hidup, maka kita sedang membangun generasi yang akan menjadi penjaga lingkungan di masa depan. DWP akan terus mendukung berbagai gerakan yang menghubungkan keluarga dengan alam,” ujarnya.

Momentum Jambore Ruang IV juga disambut hangat oleh para pegiat lingkungan. Iwan Dento menyampaikan rasa bangga atas kehadiran Dewan Penasehat DWP KLH/BPLH beserta jajaran di tengah komunitas pegiat lingkungan.
“Kehadiran Ibu Alia bersama jajaran KLH/BPLH menjadi semangat baru bagi kami. Ini menunjukkan bahwa gerakan masyarakat dalam menjaga Rammang-Rammang mendapat perhatian dan dukungan. Semoga kolaborasi seperti ini terus terjalin untuk menjaga kawasan karst tetap lestari,” katanya.

Melalui kegiatan ini, DWP KLH/BPLH menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dibangun melalui kolaborasi, edukasi, dan aksi nyata. Pesan yang disampaikan di Rammang-Rammang menjadi pengingat bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan, sehingga bentang alam karst yang menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan ini tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi kini maupun yang akan datang.

