Makassar — Upaya mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan terus diperkuat oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku. Pada Senin, 17 November 2025, tim Bidang Wilayah II kembali melakukan pendampingan intensif kepada Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar sebagai bagian dari proses menuju predikat Sekolah Adiwiyata. Pendampingan ini menjadi langkah strategis dalam memastikan sekolah memahami dan memenuhi berbagai kriteria Adiwiyata, terutama terkait kebijakan, implementasi aksi lingkungan, serta penguatan tata kelola sekolah.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai ini menghadirkan perangkat sekolah secara lengkap, mulai dari guru, tenaga pendidik, siswa, hingga unsur keamanan dan kebersihan. Kepala Bidang Wilayah II Pusdal LH Suma, Arnianah Alwi, S.Si., M.Si., sebagai coordinator kegiatan pendampingan dan menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen lembaganya untuk mendorong sekolah-sekolah di wilayah Sulawesi dan Maluku mengembangkan budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.
“SRMA 26 Makassar memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi sekolah Adiwiyata. Keterlibatan semua unsur sekolah adalah kunci utama, dan hari ini kita melihat semangat itu hadir,” ujar Arnianah Alwi dalam arahannya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Kepala Pusdal LH Suma, Dr. Azri Rasul, SKM.M.Si.,MH memberikan instruksi tegas kepada seluruh bidang untuk memastikan pendampingan Adiwiyata dilakukan secara sistematis, terukur, dan berorientasi hasil. Arahan beliau inilah menjadi landasan kegiatan yang dilaksanakan di SRMA 26 Makassar.
Beberapa poin penting instruksi Dr. Azri Rasul yang diimplementasikan pada pendampingan kali ini meliputi:
- Penguatan kualitas data dan eviden Adiwiyata
- Akselerasi pemenuhan 29 kriteria Adiwiyata
- Optimalisasi penggunaan aplikasi SIDIA 2025.
- Kolaborasi dan partisipasi seluruh warga sekolah.
- Pendampingan lapangan yang berkelanjutan.
Pendampingan Kebijakan dan Sosialisasi Kriteria Adiwiyata
Salah satu fokus kegiatan adalah sosialisasi kebijakan Adiwiyata dan pemenuhan 29 kriteria yang menjadi standar penilaian. Sosialisasi ini diikuti oleh 143 siswa, 18 guru, 23 tenaga pendidik, serta 6 orang tenaga keamanan dan kebersihan. Dengan jumlah peserta yang cukup besar, kegiatan ini menunjukkan komitmen SRMA 26 Makassar untuk melibatkan seluruh elemen sekolah dalam proses menuju sekolah ramah lingkungan.
Tim Pusdal LH Suma memaparkan empat komponen utama Adiwiyata, yaitu kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan. Penjelasan ini menjadi dasar agar sekolah dapat mengukur posisi awal mereka sebelum melanjutkan pada tahap penguatan implementasi.
“Adiwiyata bukan hanya program administratif, tapi budaya. Sekolah harus mampu memastikan setiap elemen—kebijakan, pembelajaran, dan perilaku sehari-hari—selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan,” lanjut Arnianah.

Bimbingan Teknis Penggunaan Aplikasi SIDIA
Selain sosialisasi, tim Pusdal LH Suma juga memberikan bimbingan teknis (bimtek) penggunaan aplikasi Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA). Aplikasi ini merupakan sistem resmi Kementerian Lingkungan Hidup yang digunakan sebagai instrumen penilaian, pengisian data, serta monitoring proses Adiwiyata.

Sebanyak 15 guru dari SRMA 26 Makassar mengikuti bimtek untuk memastikan mereka memahami cara melakukan input data, pembaruan profil sekolah, hingga pengisian kuesioner leveling. Hasilnya, sekolah telah:
- Melakukan pendaftaran akun SIDIA tahun 2025
- Mengisi profil sekolah secara lengkap
- Menyelesaikan pengisian kuesioner leveling dan berada pada Level 2
Leveling ini menandai kesiapan awal sekolah dalam memenuhi standar Adiwiyata Nasional, serta menjadi indikator untuk pendampingan lanjutan.
Pembentukan Tim Adiwiyata dan Tim Kader Lingkungan
Komitmen SRMA 26 Makassar dalam mengikuti program Adiwiyata semakin diperkuat dengan terbentuknya dua tim penting, yakni Tim Adiwiyata Sekolah dan Tim Kader Adiwiyata. Kedua tim ini dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Sekolah:
- SK Nomor 45/01/9/SRMA-26/H.M.01/XI/2025 tentang Penetapan Tim Adiwiyata Sekolah
- SK Nomor 46/01/9/SRMA-26/H.M.01/XI/2025 tentang Pembentukan Tim Kader Adiwiyata

Kedua SK tersebut ditetapkan pada 14 November 2025, hanya tiga hari sebelum kunjungan pendampingan berlangsung. Kehadiran tim ini sangat penting karena menjadi motor penggerak pelaksanaan kegiatan lingkungan, baik untuk aspek administratif maupun kegiatan aksi di lapangan.
Tim Adiwiyata bertugas untuk menyiapkan dokumen, merancang kebijakan, dan mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kegiatan sekolah. Sementara Tim Kader Adiwiyata berperan dalam membangun budaya perilaku pro-lingkungan di antara siswa, seperti pengelolaan sampah, penghematan energi, penataan ruang hijau, hingga kampanye lingkungan.
Antusiasme Warga Sekolah dan Peluang Pengembangan
Pendampingan kali ini mendapat respon positif dari seluruh warga sekolah. Keterlibatan ratusan peserta didik menjadi indikator bahwa pembiasaan perilaku peduli lingkungan memiliki peluang besar untuk berhasil. Guru dan tenaga pendidik juga menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat integrasi materi lingkungan ke dalam mata pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Dengan posisi leveling di SIDIA yang sudah berada pada Level 2, SRMA 26 Makassar dinilai berada pada jalur yang tepat menuju evaluasi Adiwiyata tingkat kota. Tim Pusdal LH Suma akan terus melakukan pendampingan hingga sekolah dapat menyelesaikan seluruh 29 kriteria yang menjadi syarat penilaian.
Pusdal LH Suma menyampaikan bahwa SRMA 26 Makassar perlu memperkuat beberapa aspek, antara lain:
- Penyusunan dokumen kebijakan berwawasan lingkungan
- Penguatan kegiatan partisipatif yang melibatkan masyarakat sekitar
- Implementasi pengelolaan sampah yang lebih terstruktur
- Penataan dan pemeliharaan fasilitas lingkungan sekolah
- Konsistensi pelaporan melalui aplikasi SIDIA
Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendorong percepatan sekolah-sekolah di Makassar menuju Sekolah Adiwiyata Nasional. Pada kesempatan ini, Kepala Sekolah SRMA 26 Makassar menyampaikan apresiasi mendalam atas pendampingan yang diberikan Pusdal LH Suma. Menurutnya, dukungan ini menjadi energi baru bagi seluruh warga sekolah.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pusdal LH Sulawesi Maluku, khususnya kepada Ibu Arnianah Alwi dan tim Bidwil II. Kehadiran pendampingan ini memberikan pencerahan besar bagi kami tentang pemenuhan kriteria Adiwiyata, terutama dalam penggunaan aplikasi SIDIA dan penataan kelembagaan,” ujar Kepala Sekolah.
Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Pendampingan yang dilakukan oleh Bidang Wilayah II pada hari tersebut bukan hanya kegiatan rutin, tetapi bentuk nyata kolaborasi pemerintah dengan lembaga pendidikan dalam membangun generasi yang lebih peduli lingkungan. Pendidikan lingkungan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi membentuk karakter siswa untuk bertanggung jawab dan memiliki empati terhadap keberlanjutan planet.
“Generasi muda adalah kunci keberlanjutan bumi kita. Melalui program Adiwiyata, kita menanamkan nilai cinta lingkungan sejak dini,” tutup Arnianah Alwi.

Dengan serangkaian pencapaian ini, SRMA 26 Makassar kini memasuki tahap penting dalam perjalanan menuju sekolah berbudaya lingkungan. Dukungan dan pendampingan dari Pusdal LH Sulawesi dan Maluku menjadi fondasi kuat untuk memastikan sekolah mampu mencapai standar yang ditetapkan. Harapannya, SRMA 26 Makassar dapat menjadi model inspiratif bagi sekolah lain di Kota Makassar dan wilayah Sulawesi-Maluku dalam menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan pendidikan hijau.

