Tomohon – Bulan Desember diawali dgn kegiatan peningkatan kapasitas keluarga. pada Sosialisasi Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Kota Tomohon, Pusdal LH Suma Bidwil 1 menjadi narasumber pada kegiatan tersebut yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Tomohon. Kegiatan ini dilaksanakan pada 01 Desember 2025 di Gedung Michi no Eki, Pakewa, dan dihadiri oleh perwakilan perempuan dari seluruh kecamatan di Kota Tomohon dan. Program ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas perempuan dalam mengelola sampah serta meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Kegiatan dibuka oleh Asisten III Kota Tomohon yang juga menjabat sebagai Plt. Kepala DP3A, Masnah Pioh, S.Sos. Dalam sambutan yang mewakili Wali Kota Tomohon, beliau menyampaikan bahwa perempuan merupakan mitra kerja pemerintah yang memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Perempuan berperan penting dalam pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga, termasuk dalam peningkatan ekonomi rumah tangga.

“Perempuan adalah ujung tombak pembangunan di tingkat keluarga. Peningkatan kualitas hidup perempuan ditandai dengan adanya peran setara antara laki-laki dan perempuan. Pelatihan hari ini adalah salah satu upaya peningkatan perekonomian keluarga melalui pengelolaan sampah,” ujar Masnah.
PKK Sebagai Penggerak Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tomohon, drg. Jean d’Arc Senduk-Karundeng, turut memberikan sambutan. Ia menegaskan bahwa PKK merupakan penggerak utama Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga. Menurutnya, pembiasaan pemilahan dan pengolahan sampah harus dimulai dari rumah karena anggota PKK memegang peran kunci dalam pengendalian sampah rumah tangga.
“Keputusan untuk memilah, membuang, atau mengolah sampah bermula dari kita. Melalui pengetahuan tentang pengelolaan sampah, PKK dapat mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan dan mewujudkan keluarga mandiri, sejahtera, dan berdaya,” ungkapnya.

Beliau juga menyoroti potensi Kota Tomohon sebagai sentra sayur dan buah di Sulawesi Utara yang menghasilkan sekitar 5 ton sampah organik per hari. Sampah organik ini dapat menjadi potensi besar jika diolah menjadi pupuk organik yang tidak hanya bermanfaat bagi petani tetapi juga membuka peluang pendapatan asli daerah (PAD). Ia mendorong agar setiap kecamatan dan kelurahan di Tomohon — total 44 kelurahan — dapat digerakkan dalam produksi pupuk organik.
Materi pertama disampaikan oleh Pdt. Ruth Ketsia Wangkai, yang mengangkat tema kesetaraan gender. Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki hak atas kepastian hukum, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keluarga, perlindungan dari kekerasan, dan ekonomi.
“Di dalam keluarga, perempuan harus memiliki akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang setara,” tegasnya. Penyampaian ini juga sejalan dengan momentum 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diperingati dari 25 November hingga 10 Desember.
Materi terakhir dibawakan oleh Penyuluh Ahli Madya dari Pusdal LH Suma Bidwil I, Firna Sofianti Thamrin, S.Hut., M.Hut., yang fokus pada pengelolaan sampah organik menggunakan biowash sebagai bioactivator.

Biowash adalah campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang berfungsi mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan kualitas tanah. Bioaktivator ini mengandung bakteri yang mampu mendegradasi selulosa dan serat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik cair (POC) maupun pupuk organik padat. Biowash juga membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, serta mempercepat proses penanaman.
Dengan penggunaan biowash, bahan organik seperti sisa tanaman, pupuk kandang, dan limbah organik lainnya dapat terurai lebih cepat menjadi kompos siap pakai. Pada kondisi Kota Tomohon yang menghasilkan sampah organik melimpah, teknologi ini sangat potensial untuk mendukung produksi pupuk organik lokal. Pupuk organik yang diproses menggunakan bioaktivator dapat langsung diaplikasikan ke tanah sehingga lahan menjadi siap tanam dalam waktu singkat.
“Biowash mampu mengubah sampah menjadi media tanam dalam sekejap,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya membantu pemerintah dalam menangani persoalan sampah organik, tetapi juga memberikan peluang peningkatan pendapatan keluarga melalui produksi pupuk organik. Dengan dukungan PKK, kelurahan, dan masyarakat, Kota Tomohon diharapkan mampu menjadi sentra pupuk organik yang bermanfaat bagi seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan perempuan di seluruh kecamatan semakin berdaya dan memiliki kemampuan dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi keluarga dan kota.

