Pusdal LH Sulawesi Maluku-KLH dan PPGT Jemaat Rama Youth for Earth Kelola Sampah, Jaga Bumi Kita!

Makassar, Ditengah kondisi darurat sampah perkotaan yang kian mendesak, Pengurus Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Jemaat Rama menggelar pertemuan strategis dengan menggelar seminar lingkungan hidup bertajuk “Youth for Earth: Saatnya Pemuda Ambil Alih Perubahan”. Kegiatan yang berlangsung di Aula Serbaguna Gereja Toraja Jemaat Rama, Jalan Dirgantara No. 106, Makassar, Minggu (23/11).

 

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman bagi generasi muda Pengurus Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) terkait masalah lingkungan khususnya permasalahan pengelolaan sampah serta Mendorong semangat dan meningkatkan kesadaran generasi muda untuk melakukan pengelolaan sampah.

 

​Pertemuan ini menghadirkan narasumber Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku-KLH/BPLH yang diwakili oleh Kepala Subbag TU Rina Triany Muchsin, S.E., M.A.P.

Dalam paparannya bahwa fakta krusial timbulan sampah di Kota Makassar pada tahun 2025 ini telah menyentuh angka sekitar 1.000 ton per hari.  Lebih lanjut diungkapkan, Dampak yang timbul akibat pengelolaan sampah yang buruk tidak hanya menimbulkan masalah lingkungan di ekosistem darat, namun juga bisa membahayakan ekosistem di pesisir dan laut.

 

Pentingnya perubahan paradigma sesuai amanat UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dengan upaya pelestarian lingkungan hidup.

 

Merubah paradigma dan pola pikir

Kepala Subbag TU Pusdal LH Sulawesi dan Maluku didampingi JF, Yustina Miraldin Suardi, S.T. berpesan kepada para peserta agar kita merubah paradigma dan pola pikir dimana manusia merupakan bagian dari alam semesta dan pengelolaan sampah dapat dilakukan mulai dari diri sendiri dan dari sekarang.

“Beralih ke prinsip 6R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot) atau 6 (enam) prinsip pengelolaan sampah yang lebih komprehensif dan kompleks dari prinsip 3R; Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang),” jelasnya.

Ia.juga menambahkan tambahan prinsip; “Rethink” (berpikir ulang sehingga mencegah pemborosan dan potensi sampah), “Refuse” (menolak barang-barang yang tidak dibutuhkan, terutama yang tidak ramah lingkungan) dan “Rot “(Mengomposkan sampah organik).

​”Kunci keberhasilan ada pada konsistensi. Pemilahan sampah dari sumber adalah langkah strategis yang menjadi dasar pergerakan ekonomi sirkular,” ungkap Rina Triany dihadapan puluhan peserta.

Sementara itu, ​Lydia Gloria Ta’bi selaku Ketua Pengurus Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) menegaskan bahwa keterlibatan pemuda bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk masa depan yang lestari sesuai tema yang diangkat “Youth for Earth: Saatnya Pemuda Ambil Alih Perubahan”.

​”Generasi muda adalah pewaris bumi ini, beban permasalahan lingkungan akan semakin berat di masa depan. Pertemuan ini bukan sekadar diskusi, tapi langkah dalam aksi nyata agar kita mengubah pola pikir bahwa sampah bukan lagi sesuatu yang dibuang begitu saja, tetapi sumber daya yang harus dikelola dengan memulai dari rumah sendiri,” pesannya didampingi Sekretaris Pengurus Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT), Chrisna Resa Adiputra Nathaniel.

 

Seminar ini juga menghasilkan rencana tindak lanjut yang konkret dengan struktur Bank Sampah Jemaat Gereja Toraja telah terbentuk sejak April 2025, PPGT dan Pusdal LH Sulawesi dan Maluku-KLH menyepakati pembinaan lanjutan. Kerjasama ini akan diperluas mencakup pelatihan teknis pembuatan kompos, budidaya maggot, dan eco-enzyme sebagai langkah dalam mendukung target Nasional Indonesia Bersih 2029.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *