Workshop Konservasi Keanekaragaman Hayati Regional Sulawesi Maluku Dorong Kolaborasi Pelestarian Kehati dan Pengendalian Ancaman Lingkungan

Makassar, Kamis (07/05/2026) — Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) GmbH menggelar Workshop Konservasi Keanekaragaman Hayati Regional Sulawesi Maluku di Persik Room Hotel Four Points Makassar.

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Biodiversity Week 2026 dalam menyambut International Day for Biodiversity yang puncaknya diperingati setiap 22 Mei. Workshop dihadiri unsur pemerintah pusat dan daerah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, mitra pembangunan, serta peserta dari regional Sulawesi dan Maluku, baik secara luring maupun daring.

Turut hadir Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili Asisten III Bidang Administrasi Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Ir. Muhammad Arafah, S.T., M.T., Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup Ir. Inge Retnowati, M.E. yang hadir secara virtual, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Nizhar Marizi, S.T., M.Si., Ph.D., Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah Kementerian Dalam Negeri Irvan Amirullah, S.T., M.Eng., Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku Dr. Azri Rasul, S.K.M., M.Si., M.H., Kepala BBKSDA Sulawesi Selatan Ir. Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D., perwakilan GIZ Indonesia Ikeu Sri Rejeki, para narasumber dari BRIN, dari perguruan tinggi Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka., M.Sc. mewakili Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Universitas Tadulako, Universitas Halu Oleo, Universitas Pattimura, Universitas Khairun, hingga Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Selain itu, hadir pula sejumlah organisasi lingkungan seperti Yayasan Konservasi Alam Nusantara, WWF, Burung Indonesia, serta dari berbagai dari unsur pemerintah daerah, akademisi, mitra pembangunan, lembaga pemerhati lingkungan lainnya.

 

Kehati Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku, Dr. Azri Rasul, dalam sambutannya menegaskan bahwa konservasi keanekaragaman hayati tidak hanya berbicara tentang menjaga flora dan fauna, tetapi juga memahami ancaman yang dapat mengurangi keberadaan keanekaragaman hayati itu sendiri.

 

Menurutnya, inventarisasi keanekaragaman hayati perlu dilakukan bersamaan dengan identifikasi ancaman lingkungan akibat perkembangan aktivitas manusia, termasuk pencemaran dari sampah dan limbah.

“Ketika kita berbicara konservasi, maka kita juga harus memahami ancaman terhadap eksistensi keanekaragaman hayati. Salah satu ancaman nyata saat ini adalah persoalan sampah dan limbah yang mencemari sungai, laut, hingga habitat makhluk hidup,” ujarnya.

Dr. Azri menjelaskan bahwa persoalan sampah saat ini tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan pola kumpul-angkut-buang ke TPA. Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan, hanya sekitar 60–70 persen sampah yang masuk ke TPA, sementara sisanya tersebar dan mencemari lingkungan.

 

Ia juga menyoroti bahaya air lindi dari TPA yang mengandung logam berat dan zat berbahaya akibat bercampurnya sampah tanpa pemilahan dari sumber.

“Air lindi dari TPA mengandung berbagai polutan seperti timbal, merkuri, dan zat berbahaya lainnya. Ketika masuk ke sungai atau air tanah, maka akan memengaruhi habitat dan keberadaan keanekaragaman hayati,” jelasnya.

Menurutnya, inventarisasi ancaman lingkungan menjadi langkah penting agar upaya konservasi tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga pencegahan kerusakan ekosistem akibat aktivitas manusia.

Kolaborasi Regional untuk Dampak Global

Dalam sambutannya mewakili GIZ Indonesia, Ikeu Sri Rejeki menyampaikan bahwa Biodiversity Week 2026 mengusung semangat “Acting Locally for Global Impact” yang menekankan pentingnya aksi lokal dalam memberikan dampak global terhadap pelestarian lingkungan.

 

Ia mengatakan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, masyarakat adat dan lokal, dunia usaha, generasi muda, hingga komunitas lingkungan.

“Keberhasilan menjaga keanekaragaman hayati tidak bisa berjalan satu arah. Semua pihak harus terlibat aktif, berkolaborasi, dan bergerak bersama,” ungkapnya.

Melalui tiga pendekatan utama Look and Learn, Connect and Act, serta Share, GIZ bersama para mitra mendorong peningkatan pemahaman, aksi nyata, dan penyebarluasan inspirasi pelestarian lingkungan kepada masyarakat luas.

 

Ikeu juga menegaskan bahwa setiap langkah kecil dalam menjaga lingkungan memiliki arti besar bagi keberlanjutan bumi di masa depan.

“Setiap aksi sekecil apa pun memiliki arti. Setiap langkah lokal membawa dampak bagi global,” tuturnya.

 

Pembukaan dan Dukungan Kolaborasi Pelestarian Kehati

Kegiatan workshop dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili Asisten III Bidang Administrasi Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Muhammad Arafah, S.T., M.T.

 

Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Workshop Konservasi Keanekaragaman Hayati Regional Sulawesi Maluku yang digelar Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup bersama GIZ Indonesia dalam rangkaian Biodiversity Week 2026.

 

Ia menegaskan bahwa keanekaragaman hayati bukan sekadar isu lingkungan, tetapi fondasi kehidupan yang menopang ekonomi, budaya, dan masa depan masyarakat. Menurutnya, tema “Acting Locally for Global Impact” sejalan dengan semangat regional dalam membangun Sulawesi dan Maluku melalui pelestarian alam dan penguatan kolaborasi lintas sektor.

“Keberhasilan menjaga keanekaragaman hayati tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Pemerintah perlu membuka ruang partisipasi yang inklusif, sementara masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas lokal, hingga generasi muda harus mengambil peran aktif untuk bergerak bersama menjaga warisan alam bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa setiap aksi kecil dalam menjaga lingkungan memiliki dampak besar secara global. Karena itu, momentum Biodiversity Week 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan inspirasi bersama dalam memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi dan Maluku.

 

Perkuat Sinergi Pelestarian Lingkungan di Sulawesi dan Maluku

Dalam sesi materi, peserta mendapatkan pemaparan terkait penyusunan Profil KEHATI daerah, penyusunan Rencana Induk Pengelolaan (RIP) KEHATI, penetapan kawasan bernilai penting bagi konservasi, hingga pembangunan dan pengelolaan taman keanekaragaman hayati. Materi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung integrasi konservasi ke dalam perencanaan pembangunan daerah.

Pada sesi diskusi isu strategis, sejumlah narasumber turut memberikan pandangan terkait tantangan konservasi di Sulawesi dan Maluku. Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka., M.Sc. dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi ancaman degradasi lingkungan dan hilangnya habitat satwa endemik. Organisasi Burung Indonesia juga menyampaikan berbagai tantangan konservasi spesies dan habitat di kawasan Wallacea.

Sementara itu, Tokoh Adat Kampung Karst Rammang-Rammang, Iwan, menyoroti pentingnya pelibatan masyarakat lokal dalam menjaga kawasan bernilai ekologis tinggi.

Melalui workshop ini, diharapkan lahir komitmen dan langkah konkret dalam memperkuat perlindungan ekosistem, pengelolaan kawasan konservasi, serta pelibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan dan menjaga kekayaan hayati Sulawesi dan Maluku untuk generasi mendatang.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *