Ribuan Peserta Bersihkan 27 Ton Sampah dalam Gerakan Indonesia ASRI

Manado — Wajah pesisir dan ruang publik di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara, Manado, tampak berbeda pada Jumat pagi. Ribuan orang berseragam olahraga hingga seragam dinas memadati area pantai dan pasar, bukan untuk berwisata, melainkan untuk berjibaku dengan sampah. Aksi nyata ini merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

 

Sinergi Lintas Sektor di Ujung Utara Sulawesi

Kegiatan bertajuk Kerja Bakti Massal Gerakan Indonesia ASRI ini diselenggarakan pada Jumat, 6 Februari 2026. Sebanyak 4.324 peserta yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN), personil TNI, Polri, perangkat daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, hingga komunitas lingkungan seperti Beach Clean Up, turun ke jalan dan pesisir pantai.

Salah satu instansi pusat yang turut ambil bagian secara aktif adalah Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku. Seluruh ASN dari Bidang Wilayah I Pusdal LH hadir sebagai bentuk komitmen instansi dalam menjaga ekosistem pesisir dan memastikan pengendalian pencemaran lingkungan berjalan secara nyata di lapangan.

 

Latar Belakang: Instruksi Langsung dari Sentul

Aksi besar-besaran ini tidak terjadi tanpa alasan. Penyelenggaraan kerja bakti ini merupakan tindak lanjut konkret atas arahan Presiden RI dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang digelar pada 2 Februari 2026 di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor.

Presiden menekankan pentingnya sinergi antara pusat dan daerah dalam menciptakan ruang publik yang tertib, bersih, dan asri. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara merespons cepat instruksi tersebut dengan menginisiasi gerakan bersih-bersih serentak yang menyasar titik-titik krusial di Kota Manado. Tujuannya jelas: menciptakan lingkungan kerja dan ruang publik yang sehat, sekaligus menata kembali saluran air guna mencegah dampak banjir maupun pencemaran laut.

Mulai pukul 07.00 hingga 09.30 WITA, aktivitas pembersihan difokuskan pada tujuh lokasi strategis yang menjadi wajah Kota Manado. Lokasi-lokasi tersebut dipilih karena memiliki tingkat aktivitas publik yang tinggi serta kerentanan terhadap tumpukan sampah plastik di pesisir, antara lain:

  • Pesisir Pantai Manado – Beach Walk II
  • Pesisir Pantai Los Bahu
  • God Bless Park Manado (Taman berkat)
  • Kawasan Pesisir Pantai Jembatan Kuning, Jalan Boulevard
  • Pasar Bersehati Calaca
  • Pesisir Pantai Jalan Boulevard II (Segmen RM Jendela Laut hingga Taman Karang Ria)
  • Pesisir Pantai Jalan Boulevard II (Segmen Taman Karang Ria hingga Black Cup Coffee)

Bidang Wilayah I Pusdal LH Sulawesi dan Maluku sendiri bergabung di titik ketujuh, yakni ruas Taman Wisata Karang Ria hingga Black Cup Coffee. Mereka bekerja bahu-membahu bersama beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti BPD Prov. Sulut, Dinas PTSP, Dispora, Dinas Perkimtan, dan Satpol PP.

 

Catatan Mengejutkan: 27 Ton Sampah Terkumpul

Hasil dari kerja bakti selama kurang lebih 2,5 jam ini membuahkan angka yang cukup mencengangkan. Secara akumulatif dari tujuh titik lokasi, total sampah yang berhasil diangkat mencapai 27.008,5 kg (27 ton lebih).

Data statistik menunjukkan dominasi sampah campuran yang sulit terurai. Berikut adalah rincian total sampah yang terkumpul:

  • Sampah Campuran: 17.807 kg
  • Sampah Organik: 6.129,5 kg
  • Sampah Anorganik: 3.072 kg

Khusus di lokasi penempatan Pusdal LH (Ruas Karang Ria – Black Cup Coffee), tim berhasil mengamankan total 10.024 kg sampah, dengan rincian 1.651 kg sampah anorganik, 515 kg sampah organik, dan sisanya merupakan sampah campuran seberat 7.858 kg.

Keterlibatan Bidang Wilayah I Pusdal LH Sulawesi dan Maluku dalam aksi ini bukan sekadar partisipasi seremonial. Hal ini merupakan bagian dari misi besar perlindungan lingkungan hidup di wilayah timur Indonesia. Pesisir Manado yang berhadapan langsung dengan perairan terbuka memerlukan pengawasan ekstra terhadap limbah padat agar tidak mencemari ekosistem bawah laut yang menjadi aset pariwisata daerah.

Gerakan Indonesia ASRI ini diharapkan menjadi pemantik bagi masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga dan tidak membuang sampah ke saluran air maupun pantai. Dengan lingkungan yang asri, produktivitas ASN dan kenyamanan warga dalam menikmati ruang publik pun akan meningkat secara signifikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *