Makassar (04/02/2026) – Aksi bersih bukan hanya tentang kerja fisik, tetapi juga tentang menyatukan semangat, nilai, dan kesadaran kolektif. Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, kegiatan sederhana seperti membersihkan lingkungan justru menjadi simbol kuat kepedulian dan tanggung jawab bersama. Semangat inilah yang tercermin dalam kegiatan aksi bersih lingkungan yang dilaksanakan di Kantor Pusdal Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku.
Kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan seluruh pegawai untuk bergerak dalam satu barisan, satu niat, dan satu tujuan, yakni menjaga lingkungan dan merawat ruang hidup bersama. Turut hadir Kepala Balai Gakkum Wilayah Sulawesi, Muhammad Ihsan, S.P., beserta seluruh jajarannya. Aksi bersih dilakukan dengan menyusuri area kantor, drainase, trotoar, serta ruang-ruang publik di sekitar lingkungan perkantoran. Setiap langkah dan setiap sampah yang terangkat menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan tertata.

Aksi bersih ini merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Republik Indonesia yang menekankan pentingnya penguatan budaya bersih dan pengelolaan sampah dari sumbernya. Presiden berulang kali mengingatkan bahwa persoalan sampah dan lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan semata, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata dan keteladanan, terutama oleh aparatur pemerintah.
Sejalan dengan itu, Menteri Lingkungan Hidup juga menegaskan pentingnya peran aktif seluruh instansi pemerintah dalam mendorong gerakan kolektif dan partisipatif untuk menjaga kualitas lingkungan hidup. Setiap unit kerja diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi administratif dan teknis, tetapi juga menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, aksi bersih ini tidak hanya berfokus pada kegiatan pembersihan, tetapi juga pada penerapan prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan dan ekonomi sirkular. Sampah yang terkumpul dipilah berdasarkan jenisnya sejak dari sumber. Berdasarkan hasil kegiatan, tercatat sampah plastik sebanyak 3 kantong dengan total berat 28 kilogram, sementara sampah organik mencapai 14 kantong dengan berat total 272 kilogram.

Data tersebut menunjukkan bahwa timbulan sampah di lingkungan perkantoran masih didominasi oleh sampah organik, yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali. Sampah organik yang terkumpul selanjutnya dimanfaatkan untuk proses pengomposan, sedangkan sampah plastik disalurkan ke bank sampah sebagai upaya mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.
Kasubbag Tata Usaha Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Rina Triany, yang hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa aksi bersih ini menjadi sarana penting untuk membangun kesadaran dan budaya peduli lingkungan di lingkungan kerja.
“Aksi bersih ini adalah bentuk tindak lanjut nyata dari arahan Presiden dan Menteri Lingkungan Hidup agar pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya. Dari kegiatan hari ini, kita belajar bahwa sampah bukan sekadar untuk dibuang, tetapi bisa dikelola dan dimanfaatkan. Sampah organik kita olah menjadi kompos, sementara sampah plastik kita salurkan ke bank sampah. Ini praktik sederhana, tetapi berdampak besar jika dilakukan secara konsisten,” ujar Rina Triany.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan seluruh pegawai menjadi kunci dalam membangun kebiasaan dan budaya kerja yang ramah lingkungan. Menurutnya, aparatur pemerintah harus menjadi teladan bagi masyarakat dalam menerapkan perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Sementara itu, Kepala Bidang Wilayah II Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Arnianah Alwi, menegaskan bahwa aksi bersih ini juga memiliki dampak strategis dalam upaya pengendalian pencemaran dan pencegahan risiko lingkungan, khususnya di kawasan perkotaan.
“Kegiatan ini tidak hanya membersihkan lingkungan kantor, tetapi juga berdampak langsung pada upaya pencegahan pencemaran dan pengurangan risiko banjir melalui pembersihan drainase dan area publik. Ini sejalan dengan arahan Menteri Lingkungan Hidup agar setiap unit kerja aktif melakukan aksi nyata di lapangan, bukan hanya sebatas perencanaan,” jelas Arnianah Alwi.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan semacam ini perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan program pengelolaan lingkungan lainnya agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Dari data sampah yang terkumpul hari ini, kita bisa melihat bahwa pengelolaan sampah dari sumber sangat efektif. Jika dilakukan secara rutin, beban sampah ke TPA dapat dikurangi secara signifikan. Inilah semangat gotong royong yang ingin terus kita bangun, dimulai dari kantor dan menular ke masyarakat,” tambahnya.
Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, aksi ini menjadi ruang pembelajaran bersama tentang makna gotong royong sebagai kunci perubahan. Dari lingkungan kantor, tumbuh kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi, konsistensi, dan rasa memiliki terhadap ruang hidup bersama.

Melalui aksi bersih ini, Pusdal LH Sulawesi dan Maluku menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, tidak hanya melalui kajian, kebijakan, dan koordinasi, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan. Harapannya, semangat ini dapat terus dijaga dan menjadi contoh praktik baik dalam mendukung upaya nasional menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

