MAMUJU – Masalah pengelolaan sampah di wilayah perkotaan memerlukan tangan dingin dan kolaborasi lintas instansi yang solid. Menyadari tantangan lingkungan yang kian kompleks, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mamuju menggelar aksi kerja bakti massal atau “korve” besar-besaran dengan menggandeng berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) hingga aparat keamanan dan lembaga vertikal, pada Jumat pagi.
Kegiatan yang berpusat di sejumlah titik strategis di ibu kota provinsi ini tidak hanya menjadi simbol kebersihan, tetapi juga bukti nyata keberhasilan kolaborasi antara pemerintah daerah, instansi vertikal, dan unsur TNI-Polri dalam menjaga estetika serta kesehatan lingkungan di Bumi Manakarra.
Aksi korve ini diprakarsai oleh DLH Kabupaten Mamuju sebagai langkah rutin yang kini ditingkatkan eskalasinya. Tidak tanggung-tanggung, aksi kali ini diperkuat oleh dukungan penuh dari jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat serta Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat. Kehadiran BKKBN dalam kegiatan ini menegaskan bahwa lingkungan yang bersih merupakan fondasi awal dalam menciptakan keluarga sehat. Hal ini juga menjadi upaya preventif dalam mencegah isu-isu kesehatan masyarakat, termasuk penanganan stunting yang berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan yang buruk.

Selain unsur sipil, kekuatan pengamanan dari TNI dan Polri turut terjun langsung ke lapangan. Puluhan personel berseragam tampak bahu-membahu bersama para Aparatur Sipil Negara (ASN) menyisir area selokan, bahu jalan, hingga ruang publik yang selama ini menjadi titik penumpukan sampah. Sinergi ini memberikan pesan kuat bahwa menjaga kebersihan adalah tugas pertahanan sipil yang fundamental.
Berdasarkan data di lapangan, tercatat sekitar 200 orang yang terdiri dari ASN dan petugas kebersihan (pasukan oranye) terlibat aktif dalam aksi ini. Sejak pukul 07.00 WITA, para peserta sudah berkumpul dengan peralatan lengkap seperti sapu lidi, penggaruk sampah, hingga kantong plastik besar.

Para ASN yang biasanya berkutat dengan dokumen di belakang meja, kali ini turun langsung ke selokan untuk memungut sampah plastik yang menyumbat saluran air. Semangat gotong royong sangat terasa saat personel TNI-Polri membantu mengangkut tumpukan sampah yang berat ke atas armada truk sampah yang telah disiagakan oleh DLH. Partisipasi aktif ini menunjukkan komitmen kuat dari birokrasi di Mamuju dan Sulawesi Barat untuk memberikan contoh nyata kepada masyarakat, terutama dalam mengantisipasi ancaman banjir saat musim hujan tiba akibat drainase yang tersumbat.
Salah satu titik fokus utama dalam aksi bersih kali ini adalah kawasan yang kerap ditempati oleh para Pedagang Kaki Lima (PKL). Area ini diidentifikasi sebagai salah satu sumber produksi sampah harian yang cukup tinggi di kota Mamuju. Dalam kegiatan tersebut, tim DLH dan relawan melakukan edukasi langsung kepada para pedagang mengenai pentingnya menjaga kebersihan area berjualan.

DLH Mamuju menekankan bahwa para pedagang memiliki peran kunci sebagai “garda depan” dalam menjaga kebersihan fasilitas publik. Keberadaan PKL yang tertata dan bersih tidak hanya akan menarik lebih banyak pembeli, tetapi juga mencegah penyumbatan saluran air di sekitar lokasi pasar tumpah.
Lebih dari sekadar memungut sampah, aksi kali ini juga membawa misi edukasi mengenai pemilahan sampah. Petugas di lapangan menghimbau para pedagang kaki lima untuk mulai menyediakan dua jenis wadah sampah di sekitar tempat mereka berjualan: sampah organik dan anorganik (plastik/kaleng).

“Kami ingin para pedagang tidak hanya sekadar mengumpulkan sampah, tapi mulai memilahnya. Sampah plastik dikumpulkan sendiri agar mudah didaur ulang, sementara sisa makanan atau sampah organik tidak mencemari lingkungan sekitar. Jika pemilahan ini dilakukan dari sumbernya—yaitu di tempat pedagang berjualan—beban sampah di TPA akan berkurang drastis,” ujar salah satu koordinator lapangan DLH Mamuju.
Upaya pelibatan pedagang ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem niaga yang ramah lingkungan. Para pedagang diminta untuk bertanggung jawab penuh atas radius beberapa meter di sekitar lapak mereka, sehingga tidak ada lagi kesan kumuh di pusat-pusat ekonomi kerakyatan Mamuju.

Kerja keras yang dilakukan selama beberapa jam tersebut membuahkan hasil yang cukup mencengangkan. Hingga akhir kegiatan, volume sampah yang berhasil dikumpulkan dan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mencapai kurang lebih 2,75 ton. Angka ini didominasi oleh sampah plastik sekali pakai, sisa kemasan makanan dari aktivitas perdagangan, serta sedimen tanah dan lumpur yang mengendap di saluran drainase. Jumlah 2,75 ton dalam satu kali aksi korve menunjukkan bahwa potensi timbulan sampah di titik-titik perkotaan Mamuju masih cukup tinggi, sehingga diperlukan intervensi berkelanjutan dan perubahan perilaku masyarakat.
“Jumlah 2,75 ton ini adalah angka yang cukup besar untuk aksi yang dilakukan dalam durasi singkat. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pola konsumsi dan cara kita mengelola sampah, terutama di sektor perdagangan mikro, harus segera diperbaiki,” tambah perwakilan dari DLH Mamuju di sela-sela penimbangan sampah.

Keikutsertaan Kantor Perwakilan BKKBN Sulawesi Barat dalam aksi korve ini menarik perhatian publik. Pihak BKKBN menekankan bahwa lingkungan yang kotor merupakan sarang kuman dan bakteri yang dapat mengganggu pertumbuhan anak-anak. Lingkungan yang bersih mendukung program nasional percepatan penurunan stunting di Sulawesi Barat, karena kesehatan anak sangat bergantung pada kualitas air dan sanitasi di sekitar mereka.
“Lingkungan yang bersih adalah awal dari keluarga berkualitas. Kami bangga bisa berkolaborasi dengan DLH dan instansi lainnya dalam aksi nyata ini,” ungkap salah satu staf BKKBN yang mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan korve kolaboratif ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremonial belaka. Pemerintah Kabupaten Mamuju dan Pemprov Sulbar berencana untuk menjadikan aksi sinergi ini sebagai agenda rutin dengan lokasi yang berpindah-pindah.
Kini, setelah 2,75 ton sampah berhasil diangkat, wajah beberapa sudut kota Mamuju tampak lebih bersih dan rapi. Namun, tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi tersebut. Dengan pelibatan aktif TNI, Polri, ASN, hingga para pedagang kaki lima, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: kebersihan adalah tanggung jawab kolektif. Aksi hari ini adalah pengingat bahwa beban seberat 2,75 ton pun dapat terangkat jika semua elemen masyarakat bersatu demi Mamuju yang lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk semua.

