Makassar (17/02/2026) – Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku – KLH/BPLH bersama Kelurahan Untia menggelar aksi Korvei Gerakan Indonesia Asri di Pelabuhan Perikanan Untia, Selasa pagi. Dalam 90 menit, sebanyak 4.544 kilogram sampah berhasil dikumpulkan dan dipilah di lokasi.
Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–09.00 WITA ini dipimpin langsung Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup – KLH/BPLH, Dr. Azri Rasul, S.K.M., M.Si., M.H. Aksi melibatkan jajaran internal Pusdal LH Suma, perangkat Kelurahan Untia, perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Anggota Polri dari Polsek Untia, serta ketua RT/RW dan warga pesisir.

Kolaborasi Lintas Sektor di Kawasan Strategis
Aksi bersih-bersih difokuskan di area dermaga dan sekitar jalur aktivitas bongkar muat hasil perikanan. Lokasi ini dipilih karena merupakan pintu gerbang aktivitas nelayan dan perdagangan laut di Makassar, sekaligus titik rawan penumpukan sampah kiriman akibat arus laut dan aktivitas harian.

Peserta membersihkan plastik, botol bekas, styrofoam, kayu lapuk, hingga limbah organik yang berpotensi mencemari perairan. Dari total 4.544 kilogram sampah yang terkumpul, sebanyak 4.000 kilogram merupakan sampah organik dan 544 kilogram sampah anorganik.
Dr. Azri Rasul menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar aksi simbolik.
“Gerakan ini bukan hanya membersihkan sampah hari ini, tetapi membangun kesadaran kolektif agar kawasan pesisir dan pelabuhan menjadi ruang publik yang sehat dan produktif,” ujarnya saat apel pembukaan.

Ia menjelaskan, peningkatan volume sampah di kawasan pelabuhan dalam beberapa bulan terakhir menjadi alasan utama dilaksanakannya korvei. Berdasarkan pemantauan internal, terjadi kenaikan signifikan sampah plastik akibat rendahnya pemilahan di sumber dan terbatasnya fasilitas pengelolaan limbah.
Dipilah di Lokasi, Dikelola Berkelanjutan
Usai dikumpulkan, sampah langsung dipilah di tempat. Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dipersiapkan untuk didaur ulang melalui mitra pengelola. Skema ini dilakukan untuk memastikan bahwa aksi bersih tidak berhenti pada pengangkutan, tetapi berlanjut pada pengelolaan berkelanjutan.

Kepala Tata Usaha Pusdal LH Suma, Rina Triany, S.E., M.A.P., menyampaikan bahwa edukasi pemilahan menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan lapangan.
“Kami ingin budaya asri tumbuh dari kebiasaan memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya,” katanya.

Dari pihak Kelurahan Untia, Lurah Andi Tossa, S.E., menyatakan komitmennya menjadikan kawasan pelabuhan sebagai zona bebas sampah secara bertahap. Ia berencana mengaktifkan patroli kebersihan rutin setiap akhir pekan bersama warga dan aparat lingkungan.
Kepala Bidang Wilayah II Pusdal LH Suma, Arnianah Alwi, S.Si., M.Si., menambahkan bahwa program serupa akan direplikasi di sejumlah titik pesisir lain di Makassar dalam waktu dekat. Replikasi dilakukan dengan menggandeng komunitas nelayan, pelaku usaha perikanan, dan kelompok masyarakat pesisir.

Dorong Target Pengurangan Sampah Laut
Gerakan ini menjadi bagian dari strategi pengurangan sampah laut dan pesisir di wilayah Sulawesi dan Maluku. Pusdal LH Suma menargetkan penurunan signifikan timbulan sampah laut pada 2026 melalui kombinasi aksi lapangan, edukasi publik, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.

Pelibatan aparat kepolisian dan instansi teknis kelautan dalam kegiatan ini juga bertujuan memastikan koordinasi berjalan efektif, sekaligus memberikan pesan bahwa isu kebersihan pelabuhan adalah tanggung jawab bersama.

Kegiatan diawali dengan apel pagi dan ditutup doa bersama. Semangat gotong royong terasa kuat di tengah cuaca panas pesisir. Kehadiran ketua RT/RW dan warga memperlihatkan bahwa kepedulian lingkungan dapat tumbuh ketika pemerintah dan masyarakat bergerak dalam satu visi.
Dengan terkumpulnya lebih dari 4,5 ton sampah dalam waktu 90 menit, aksi ini menunjukkan bahwa kolaborasi terarah mampu menghasilkan dampak nyata. Lebih dari sekadar angka, Korvei Gerakan Indonesia Asri di Pelabuhan Perikanan Untia menjadi momentum membangun kesadaran baru: pelabuhan bersih bukan pilihan, melainkan kebutuhan bagi keberlanjutan ekonomi dan ekosistem laut Makassar.

Humas Pusdal LH Sulawesi dan Maluku

